Innovasi Produksi Garam di pulau Madura

Madura tanah garam itulah julukan pulau Madura yang terletak di sebelah timur laut Jawa Timur. Layakkah julukan tersebut? Tentu layak karena produksi garam disana sudah sangat lama sejak zaman kolonial Belanda, dilihat dari data Analisis Produksi Garam Indonesia 2011-2014 yang dirilis oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia pada 2015 bahwa pulau Madura penghasilan produksi garam terbanyak dan juga disana menyimpan potensi lahan garam terbesar di Indonesia yang mencapai 15.000 hektar lahan garam.
Dengan kelimpahan alam tersebut apakah pulau Madura bisa mencukupi kebutuhan garam nasional yang mencapai 4,2 juta ton tiap tahunnya. Kebutuhan tersebut mencakup garam konsumsi maupun industri? Akan tetapi produksi garam saat ini di Madura mulai menurun baik secara pruduksi maupun kualitas hingga mengakibatkan pasar garam di Madura makin menurun sebagai mana kelurahan para petani garam disana terutama wilayah Sumenep.
Lalu tindakan apa yang harus dilakukan untuk memecahkan masalah tersebut? Sepeti di ketahui bahwa pengolahan garam di Madura masih dilakukan cara tradisional yaitu melalui proses pengkristalan dengan cara menjemur air laut. Dalam proses ini membutuhkan waktu yang sangat lama sekitar 25-28 hari. Tentunya proses tersebut sangat usang di era sekarang, dimana pada masa kini di butuhkan proses produksi yang mudah, cepat, dan berkualitas. Dari situlah para petani garam di Madura berani innovasi dalam produksi garam, contohnya seperti rekristalisasi garam krosok dengan penambahan  CaO, Ba(OH)2 dan Na2CO3, untuk penghilangan pengotor Ca2+, Mg2+ dan SO42-.

0 Response to "Innovasi Produksi Garam di pulau Madura"

Post a comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel